Baru-baru ini ada berita bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melarang atau Mengharamkan Seni Yoga untuk Ummat Islam. Nah Lho..!! Apaan lagi Nih..??
Menyusul Pemberlakuan Fatwa Haram untuk Yoga di Malaysia. Kenapa sih MUI seolah-olah gak punya inisiatif sendiri?? seolah-olah nunggu dulu dari negeri Jiran Malaysia baru kepikiran buat ikutan??
Kesannya jadi seperti ikut-ikutan... hehehe...
Terlepas dari masalah tersebut, kita gak perlu berang atau gusar menanggapi hal tersebut.
Mau diharamkan atau tidak toh pilihannya tetap ada pada kita sendiri. Apalagi sebagai praktisi Aikido sudah terbiasa dan memang harus terlatih untuk tidak musah Terprovokasi, gusar. Keep Calm... dan belajar untuk berfikir kritis, hehehe....
Allah telah menganugerahkan makhluk yang dicintainya kepada manusia, yaitu AKAL
Gunakan akal kita dalam setiap waktu, dan permasalahan, jangan gunakan emosi kita, hawa nafsu kita yang cenderung bermaksiat kepada Allah.
Diharamkan atau tidaknya Yoga oleh MUI, akal kita yang dituntut untuk memilah dan memilih.
Berapa banyak hal yang diharamkan Allah yang telah kita lakukan?
Berdusta, berbohong misalnya?? Bergunjing (Ghibah/menceritakan hal yang benar) bergossip?? Tajasasu (mengorek-ngorek kekurangan orang lain??? Berbuat Curang, Mengurangi timbangan (Al-Muthafifiin) ?
Menelantarkan Orang tua yang sudah sepuh?? Mengolok-olok, mengumpat dan mencela orang lain??? Melakukan Pembunuhan Krakter?? Hal-hal yang sudah jelas Haramnya masih sering dilakukan...
Ditambah satu lagi lewat fatwa MUI, Yoga..... kenapa harus repot??? Gitu aja kok Repot..... hehehe...
Namun, dalam hal ini Pihak MUI juga seharusnya melakukan kajian yang sangat mendalam dan 'Masuk Akal' agar pemberlakuan Fatwa itu dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat luas.
Apa yang menjadi dasar hukumnya, penjelasannya, tafsiran dan uraiannya.... tidak hanya DOGMA semata.
belajar bersikap Skeptis (Sceptic/Skeptic) bukan apathis...
Mari kita cari kebenarannya, walaupun sesungguhnya "Kebenaran itu Akan Muncul Pada Saatnya Ia Harus Muncul..." :)
Sebagai bahan dasar untuk memahami dasar-dasar 'kemungkinan' YOGA itu diharamkan, silakan anda Baca tulisan DISINI.
Pelajari dengan Skeptis, Tidak berkecenderungan, Jalan Tengah, Jangan Apriori dulu.... Pahami, selami....
Bisa Jadi Apa yang kita sukai itu ternyata tidak benar dalam pandangan Allah SWT, Bisa Jadi yang menurut kita Baik ternyata tidak baik dalam pandangan Allah SWT....
Mudah-mudahan Allah melimpahkan Berkah dan Rahmat Nya kepada kita semua yang mencari Kebenaran di jalan Nya....
Senantiasa mohon perlindungan kepada Allah, Landaskan semuanya pada TAUHID...
Ammiin....
Allahumma 'qod balaghtu, FASHAD!
Yaa Allah, Telah aku sampaikan, maka SAKSIKANLAH!
Semoga Bermanfaat,
Allahu'alam bishshowab
Ragap Aikido Indonesia Bandung Unisba
Sunday, 30 November 2008
Hombu Dojo Grading System
Buat para praktisi Aikido yang mau ujian kenaikan tingkat, mudah-mudahan ini bisa bermanfaat.
Saya peroleh lewat info dari kenalan saya.
Materi ujiannya kelihatan sederhana, tetapi bisa saja berbeda, tergantung kebijakan masing-masing dojo.
Tadinya sih, saya mau cari Kurikulum yang baik buat berlatih Aikido. Step-step Berlatih Aikido yang baik dan bisa membuat pencapaian kemajuan yang berarti dalam mempelajari Aikido.
Pinginnya sih tiap orang yang belajar Aikido itu cepet bisa... hehehehe....
Mudah-mudahan nanti kurikulum yang bagusnya bisa saya peroleh...
Untuk Materi Ujian versi Hombu Dojo Jepang, Click Di Sini.
Allahumma 'qod balaghtu, FASHAD!
Yaa Allah, Telah aku sampaikan, maka SAKSIKANLAH!
Semoga Bermanfaat,
Allahu'alam bishshowab
Ragap Aikido Indonesia Bandung
Saya peroleh lewat info dari kenalan saya.
Materi ujiannya kelihatan sederhana, tetapi bisa saja berbeda, tergantung kebijakan masing-masing dojo.
Tadinya sih, saya mau cari Kurikulum yang baik buat berlatih Aikido. Step-step Berlatih Aikido yang baik dan bisa membuat pencapaian kemajuan yang berarti dalam mempelajari Aikido.
Pinginnya sih tiap orang yang belajar Aikido itu cepet bisa... hehehehe....
Mudah-mudahan nanti kurikulum yang bagusnya bisa saya peroleh...
Untuk Materi Ujian versi Hombu Dojo Jepang, Click Di Sini.
Allahumma 'qod balaghtu, FASHAD!
Yaa Allah, Telah aku sampaikan, maka SAKSIKANLAH!
Semoga Bermanfaat,
Allahu'alam bishshowab
Ragap Aikido Indonesia Bandung
Tuesday, 25 November 2008
Garam dan Telaga
Cerita ini saya dapat dari suatu Milis tgl 06 Februari 2003 dan masih saya simpan.
Bagi saya cerita ini sangat berkesan, Sangat Bermanfaat diaplikasikan dalam Kehidupan sehari-hari.
Apalagi dalam Aikido, ini berkenaan dengan'Daya Terima'.
Kemampuan menerima dan bersyukur yang dibutuhkan dalam ber-Aikido, serta aspek lain yang akan saya bahas kelak.
Selamat membaca, memahami dan mengamalkan... :)
GARAM dan TELAGA
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diadukperlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, "ujar Pak tua itu.
"Asin. Asin sekali, "jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang pemuda. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Beliau lagi. "Tidak," jawab si anak muda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. "Anak muda, dengarlah, Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda.
Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Beliau melanjutkan nasehatnya. "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Allahumma 'qod balaghtu, FASHAD!
Yaa Allah, Telah aku sampaikan, maka SAKSIKANLAH!
Semoga Bermanfaat,
Allahu'alam bishshowab
ragap aikido unisba bandung indonesia
Bagi saya cerita ini sangat berkesan, Sangat Bermanfaat diaplikasikan dalam Kehidupan sehari-hari.
Apalagi dalam Aikido, ini berkenaan dengan'Daya Terima'.
Kemampuan menerima dan bersyukur yang dibutuhkan dalam ber-Aikido, serta aspek lain yang akan saya bahas kelak.
Selamat membaca, memahami dan mengamalkan... :)
GARAM dan TELAGA
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diadukperlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, "ujar Pak tua itu.
"Asin. Asin sekali, "jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang pemuda. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Beliau lagi. "Tidak," jawab si anak muda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. "Anak muda, dengarlah, Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda.
Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Beliau melanjutkan nasehatnya. "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Allahumma 'qod balaghtu, FASHAD!
Yaa Allah, Telah aku sampaikan, maka SAKSIKANLAH!
Semoga Bermanfaat,
Allahu'alam bishshowab
ragap aikido unisba bandung indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)
